Caping
Terbuat dari anyaman bambu, caping makin hari makin jarang ditemukan dalam kehidupans ehari-hari. Mungkin karena untuk sebagian orang dirasa tidak modis dan dengan telak dapat menunjukkan asal, kelas sosial serta pekerjaan yang bersangkutan. Caping sepertinya dikalahkan oleh topi yang lebih terasa kota dan modern serta dapat menunjukkan tanda-tanda yang ingin diasosiasikan dengan si pemakai.
Caping sebenarnya lebih nyaman dipakai di tanah lapang karena bentuknya yang lebar dapat menutupi seluruh wajah sampai tengkuk ketika panas dan juga ketika hujan akan melindungi wajah dari air hujan
Konon katanya caping dibuat dengan cara menghaluskan bambu hingga setipis kertas lembar demi lembar dan merajut lembar demi lembar menjadi rangkap empat rangkap dan dirangkai menjadi caping. Lalu setelah itu direbus dengan campuran air kapur dan daun manding agar berwarna cokelat keemasan. Dengan proses perebusan ini diharapkan caping dapat bertahan selama 5 tahun.
Gambar-gambar di bawah adalah pembuat/penjual dan after sales service dari caping di Pasar Godean yang diambil pada tahun 2005.

Pembuat/Penjual Caping di Pasar Godean

Pembuat/Penjual Caping di Pasar Godean

Pembuat/Penjual Caping di Pasar Godean
Sedangkan gambar-gambar berikutnya menunjukkan snapshot dari pemakai caping dan juga pemakai topi

Pemakai Caping di Depan Pasar - Godean

Pemakai Caping Di Pagi Hari - Godean

Pemakai Caping Di Pagi Hari - Godean

Pemakai Caping Di Siang Hari - Godean

Pemakai Caping Di Siang Hari - Godean

Pemakai Caping Di Pagi Hari - Godean

Pemakai Topi di Depan Pasar - Godean

Para Pemakai Topi di Pagi Hari - Jembatan Pundong

Pemakai Topi di Depan Pasar - Godean
About this entry
You’re currently reading “Caping,” an entry on kertas berserakan
- Published:
- 21/10/2009 / 09:53
- Category:
- Godean, Jogjakarta, Pundong, The Professional
3 Comments
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]