catatan romantis dari perjalanan

Stasiun Kota

Stasiun Kota

Singkirkan dahulu Kemayoran, Juanda, Garuda, Merpati dan semua yang berhubungan dengan transportasi udara.

Ini adalah akhir 70-an, ketika gaya baru malam utara atau selatan, mutiara utara atau selatan dan biru malam masih menjadi mode transportasi utama para remaja dan mahasiswa kelas menengah untuk liburan atau kerja praktek, kelas bawah umunya naik bis malam. Juga membeli karcis kereta masih dilakukan stasiun atau lebih baik lagi di biro perjalanan untuk menjamin karcis mendapat tempat duduk (ada yang masih ingat nama-nama seperti Carnation, Haryono, Pasopati?)

Menjemput atau dijemput, mengantar atau diantar di dan ke stasiun adalah suatu prosesi yang cukup penting serta tak jarang dilakukan dengan mata berkaca-kaca dan diabadikan dengan gambar – karena selain perpisahan serta pertemuan itu penting – juga karena bangunan lengkung, garis rel di stasiun dengan kereta yang bergerak dengan kecepatan rendah  entah kenapa menjadi eksotis dan dengan melankolis melambangkan sebuah jarak perpisahan atau pertemuan yang akan terjadi. Perasaan menjadi makin sedih ketika sinyal tanda keberangkatan dibunyikan dan tanda bulat digerakkan oleh kepala stasiun.

Mungkin kala itu, frekwensi perjalanan tidak sesering sekarang, mobilitas manusia, juga begitu-begitu saja sehingga setiap perjalanan terutama dengan kereta api adalah sebuah ritual tersendiri yang mengikutsertakan emosi bagi manusia yang melakukannya, termasuk para pengantar dan penjemput. Ucapan seperti: “ kirim surat atau telegram kalau telah sampai” sering terdengar pada masa itu.

Belum lagi, teman seperjalanan yang biasanya adalah sebuah unsur kejutan bagi para penumpang yang pergi sendirian, apakah enak diajak mengobrol, atau lawan jenis yang menarik, juga apakah bisa berbagi majalah/buku dan teka-teki silang

Bahkan Arswendo pun membuat puisi tentang rel yang melambangkan hubungan cinta platonic tak tentu arah, juga Chairil Anwar dengan rasa kehilangannya di dalam kereta serta lagu perjuangan romantis sepasang mata bola dan film tentang kereta api di masa revolusi benar-benar membuktikan bahwa kereta api dan stasiun kereta adalah tempat yang harus dikenang atau mengenang sebuah perjumpaan dan perpisahan.

Berangkat dari semua inilah maka sebuah stasiun didokumentasikan



  1. begitu pun kisah cinta saya yang terpisah antar propinsi..

    jatinegara, gambir, kutoarjo, purworejo, tugu, purwosari, balapan

    1. bang gambarnya natural keren bgt bang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: