Rahem

Rahem

Rahem

Saya mengenal Rahem sejak SMP; di kelas satu dan kelas dua kami sekelas, saya duduk di pojok kiri belakang kelas dan dia di pojok kanan kelas, tapi tetap, jika tidak ada guru, maka kami akan memanggil para siswi yang duduk di depan dengan nama ayahnya, menjepret dengan karet dan banyak lagi kegiatan untuk menghabiskan waktu luang di sekolah.

Di kelas tiga, karena – konon katanya – terlalu banyak geng di sekolah, maka kami dicampur aduk lagi, dan di kelas baru ini kami tak sekelas.

Setelah lulus SMP, kami mendaftar di SMA yang sama, dan baru sekelas lagi pada kelas dua.

Rahem mengajarkan saya cara bermain gitar yang baik dan benar, serta chord-chord yang susah dan berbunyi aneh hanya untuk meningkatkan popularitas di mata kawan dan lain jenis. Rahem juga menjadi tukang cukur rambut saya dengan prinsip simbiosis mutualisme, beberapa batang Sokam untuk Rahem, beberapa ribu uang saya hemat (saya selalu meminta uang untuk memotong rambut) dan sudah barang tentu kami mendirikan kelompok belajar yang dengan aktif memecahkan soal-soal ujian masuk perguruan tinggi yang ditengah pembahasannya diselingi dengan rokok untuk membuat pemikiran lancar.

Lulus SMA, saya meneruskan kuliah ke Surabaya, dan kehilangan kontak dengan dia, dan baru bertemu kembali pada hari raya iedul Fitri di depan tokonya dan seperti di masa lalu dia membawa dua buah kopi jagung (kopi yang dicampur jagung supaya ada aroma dan rasa yang berbeda, karena kopi murah rasanya begitu-begitu saja)

Dengan darah muda yang menggelegak untuk bertualang, maka Rahem pergi ke Pasar Ular Jakarta, ke tempat pamannya, meninggalkan ibu dan adik-adiknya di Sumenep. Pekerjaannya adalah membeli dan menjual barang-barang yang masuk di pasar ular

Setelah bertahun-tahun hidup agak bergajulan, pada suatu hari dia berkesempatan untuk membeli satu container mesin jam tangan dan kemudian menjualnya di Jawa Timur, mendapat keuntungan jutaan rupiah (setelah dibagi-bagi antar kawan) diapun memutuskan pulang karena tak tahan dengan kehidupan Jakarta.

Sesampainya di Sumenep, dia menikah dan menjalankan toko keluarga yang menjual peralatan dapur. Semuanya berjalan lancar sampai pada suatu subuh di bulan Oktober 2007, Pasar Anom baru terbakar dan menghanguskan satu dari tiga tokonya. Semua yang ada di dalam toko itu meleleh. Ketika aku bertanya berapa kerugian yang diderita, dia hanya menjawab: “ini hanya cobaan pangeran dalam kehidupan, lagi pula harta  kan bisa dicari lagi” dia juga menjawab bahwa asuransi biasanya tidak akan mau menutupi barang-barang dan tokonya, karena pasar biasanya dibakar atau terbakar.

Hari mulai siang, dan saya harus meninggalkannya, dan hari itu saya meninggalkan Rahem dengan sebuah pengertian baru tentang cobaan hidup dan rasa kopi jagung yang tiba-tiba enak sekali

Rahem Dan Tokonya

Rahem Di Depan Tokonya


About this entry