Becak – Bagian 1

Pada masanya tukang becak adalah profesi mulia (mestinya juga sampai saat ini). Setidak-tidaknya pada November 1945, Bung Tomo pada pidatonya sebelum serangan Inggris keesokan harinya di tanggal 10 mengajak Tukang Becak, Bakul Soto, Bakul Tahu, Orang Madura dan Tukang Rombeng untuk bahu membahu menahan gempuran Inggris bersama rakyat.

Bahkan ketika pengakuan kedaulatan dan Bung Karno kembali ke Jakarta, Tukang Becak, Tukang Sayur pun properly addressed dalam pembukaan pidatonya yang legendaris di depan Istana.

Entah kenapa, tiba-tiba beberapa puluh tahun kemudian, obyek penderita dalam setiap apa saja adalah tukang becak; dan secara komprehensif  tukang becak melambangkan segala kebodohan, misfit pada masyarakat, dan segala keanehan. Kosa kata tingkah laku becakan, guyon becakan, menunjukkan tingkah laku dan guyon yang tidak dapat diterima oleh tata krama budaya adiluhung.

Seperti misalnya guyonan di bawah: Seorang tukang becak menerobos lampu merah, dan langsung dibentak oleh polisi: “dasar tukang becak goblok” ; dengan santai tukang becak menjawab: “kalau pinter aku kan jadi polisi pak”

Padahal kata tukang itu sebenarnya menunjukkan craftsmanship, syukur-syukur dalam craftsmanship nya dia bisa memasukkan unsur seni seperti misalnya tukang mas, tukang patri dan lain-lain. Craftsmanship ini dapat dilihat dari cara mengemudikan becak, yang memang butuh kecakapan khusus, walaupun tidak pernah di akui sebagai Tanda Kecakapan Khusus (TKK) dalam Pramuka, tetapi membuat becak meliuk-liuk di jalanan sempit dua arah dengan cara menggenjot dan steering dengan hanya mengandalkan kekuatan pergelangan tangan pada setiap ujung handle bar serta kayuhan kaki adalah suatu seni yang sukar untuk ditiru oleh para eksekutif yang melihat bersepeda sebagai trend sesaat. Ditambah lagi suara bell becak yang bergema dan bernada rendah, serta letak dan bentuk rem becak yang eksotis bukannya membuat mereka dihargai tapi malah membuat para tukang becak benar-benar undermined oleh bangsa sendiri.

Dalam dunia perbecakan, kita mengenang Sukardal yang mati gantung diri pada umurnya yang ke 53 di di sebuah pohon tanjung, di depan sebuah rumah di Jalan Ternate Bandung, setelah becaknya disita oleh Tibum Bandung pada 2 Juli 1986. Sepuluh tahun kemudian perlakuan ini masih ada juga, kali ini penyiksaan akibat latar belakang politik sang tukang becak.

Nasib tukang becak hanya bagus, romantis dan dramatis pada film tertentu, misalnya Pengemis dan Tukang Becak (yang memenangkan citra untuk artinya, tapi tidak untuk para tukang becaknya), Becak Terakhir di Dunia (atawa Rambo) oleh SGA serta lagu Bimbo tentang Tukang Becak yang cukup realis tapi indah dalam menggambarkan Tukang Becak.

Dalam film horror Indonesia malahan tukang becak adalah usual victim dari kuntilanak dan segala macam lelembut yang membuatnya lari tunggang langgang dan meninggalkan becaknya untuk kita tertawai. On contrary, lagu anak-anak tentang abang becak oleh chicha koeswoyo dan lainnya menceritakan keceriaan; tak lupa Jubing memberikan judul lagu becak fantasy, mungkin karena angan-angan dan realita jauh berbeda tentang kehidupan mbecak.

Dari semua tulisan di atas, sudah barang tentu kita tidak akan melupakan ‘oknum’ tukang becak yang melakukan tindak kriminal serta juga terkadang pelecehan pada penumpangnya dan biasanya langsung disikat habis oleh aparat

Kemudian lonceng kematian pun bergaung, becak dilarang di Jakarta karena tidak manusiawi, penyebab kemacetan dan katanya benar-benar sebuah contoh sempurna dari exploitation de l’homme par l’homme yang harus dihilangkan. Serta di Surabaya diberlakukan Becak Malam dan Becak Siang untuk menghilangkan kemacetan dan cukup mendapat tentangan pada masanya karena ternyata menurunkan penghasilan tukang becak akibat jam kerja mereka dibatasi selama 12 jam.

Padahal, nasib tukang becak pada masa kini yang tidak terbatas pada gender; makin terjepit ditengah kendaraan yang lain; Jika dengan sedikit pengetahuan bahasa inggris, becak akan menjadi kendaraan untuk wisatawan, juga dengan sedikit pengetahuan perbengkelan, seorang tukang becak akan menjadi bengkel becak dan sepeda, dengan sedikit modal tukang becak akan menjadi pemilik becaknya sendiri, dengan sedikit usaha pada intinya.

Tukang becak mestinya dihormati sebagai seorang pekerja yang bermartabat dan akan survive with a little help of my friends, menyitir ungkapan Lennon-McCartney yang dinyanyikan oleh Joe Cocker pada Woodstock di tahun 1969, karena profesi Tukang becak bukanlah suatu kegagalan bagi pelaku tukang becak, tapi merupakan kegagalan dari sang pengayom; tukang becak janganlah dijerumuskan sehingga tercipta stigma bahwa tukang becak melambangkan segala kebodohan, ke-wagu-an, misfit pada masyarakat, dan segala keanehan yang tidak cocok dalam strata social yang ada sekarang.

Waktu yang akan menentukan, apakah mereka hilang seperti dinosaurus atau masih ada sampai akhir zaman.

Dengan semangat dokumentasi maka foto-foto ini dibuat.

Lokasi: Bogor; tahun 2006 – 2007

Menanti di Sabtu PagiMenanti di Sabtu PagiMenanti di Sabtu PagiMenanti di Sabtu PagiMenanti di Sabtu PagiMenanti di Sabtu PagiMenanti di Sabtu Pagi

Menanti di Sabtu PagiMenanti Ketika Pilkada Kota BogorKopi PertamBersiap di Sabtu Pagi


About this entry